Wednesday, June 12, 2019

Efektivitas Belajar dan Mengajar

Efektivitas Belajar  dan Mengajar
Efektivitas belajar dan mengajar
oleh: Yonas Muanley.

Pengertian Belajar dalam pandangan kognitif, afektif, psikomotorik
Menurut aliran kognitif, belajar adalah perubahan kognitif dengan tingkatan: perubahan dalam tingkat pengetahuan, perubahan pemahaman, kemampuan menaplikasikasi, kemampuan menganalisis, kemampuan mengevaluasi, kemampuan mengkreasi.
Menurut pengertian ini, mengajar adalah usaha terstruktur yang memungkinkan atau memudahkan terjadi perubahan kognitif dalam diri peserta didik. Belajar adalah perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Maka mengajar adalah transfer pengetahuan.



Dengan demikian efektivitas belajar-mengajar dalam konteks kognitif yaitu tercapainya perubahan kecakapan dalam bidang kognitif yang dimulai dari:
1. Mengetahui atau pengetahuan,
2. pemahaman,
3. aplikasi
4. menganalisis,
5. mengevaluasi
6. mengkreasi.
Pendekatan efektivitas kognitif dalam hal belajar dan mengajar menekankan tentang enam tingkatan perubahan tersebut di atas dalam diri peserta didik. Guru dan dosen mampu mengajar yang memberi perubahan pada enam level kemampuan kognitif. Belajar dalam arti perubahan kognitif berarti berupaya untuk mengalami perubahan dari tingkat yang paling mendasar yaitu pengetahuan sampai pada kemampuan yang tertinggi yaitu kemampuan mengkreasi. Bila peserta didik memiliki kemampuan mengkreasi apa yang dipelajari maka peserta didik tersebut mengalami perubahan pada level kognitif yang tertinggi.

Belajar menurut aliran afektif, belajar adalah perubahan afektif dengan tingkat: menerima, menanggapi, menilai, mengelola, menghayati. Menurut pengertian ini, belajar tidak lain adalah terjadinya perubahan sikap dalam diri pelaku belajar. Dengan demikian peserta didik dapat dikatakan belajar apabila setelah belajar terjadi perubahan dalam sikap mereka yang meliputi kemampuan menerima, menanggapi, menilai, mengelola, menghayati apa yang dipelajarinya.
Dalam level afektif, belajar dan mengajar dapat dikatakan efektif apabila tercapai perubahan dalam diri peserta didik dalam ranah afektif yang dimulai dari level:
1. menerima
2. menanggapi
3. menilai
4. mengelola
5. menghayati
Seorang peserta didik dapat dikatakan mengalami perubahan yang disebabkan karena belajar bila terjadi perubahan-perubahan sikap yang disebutkan di atas dalam diri peserta didik. Sikap yang dimaksud yaitu kemampuan peserta didik dalam menerima, menanggapi, menilai, mengelola, menghayati apa yang dipelajarinya atau apa yang diajarkannya. Dalam konteks ini, mengajar adalah usaha terstruktur untuk menolong peserta didik mengalami 5 perubahan afektif.



Belajar menurut aliran psikomotorik yaitu perubahan pada ketrampilan peserta didik mulai pada tingkat ketrampilan peserta didik dalam hal: menirukan, memanipulasi, pengalamiahan dan kemampuan mengartikulasi terhadap apa yang dipelajarinya. Menurut definisi ini, mengajar adalah kesediaan guru memfasilitasi terjadinya perubahan kecakapan ketrampilan yang meliputi:
1. ketrampilan menirukan apa yang dipelajarinya
2. ketrampilan memanipulasi apa yang dipelajarinya
3. ketrampilan pengalamiahan apa yang dipelajarinya
4. ketrampilan mengartikulasi apa yang dipelajarinya
Mengajar menurut definisi ini, mengajar adalah kemampuan menginstruksikan peserta didik dalam mencapai perubahan yang disebutkan dalam klasifikasi tersebut di atas. Mengajar yang efektif adalah mengajar yang mampu membuat peserta didik mengalami perubahan kecakapan ketrampilan dalam mewnirukan, memanipulasi, pengalamiahan, mengartikulasi.

Selanjutnya berdasarkan informasi beberapa sumber di internet, yang dapat membantu kita untuk mengembangkan pemahaman, khususnya tentang kognitif. Beberapa sumber menjelaskan bahwa dimaksud dengan Kognitif adalah potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman ( comprehention ), penerapan ( aplication ), analisa (analysis), sintesa ( sinthesis ), evaluasi ( evaluation ). Dalam definisi ini kognitif berarti segala yang berhubungan dengan kemampuan pembelajar (siswa, peserta didik, mahasiswa, guru, dosen) untuk mengembangkan kemampuan rasional atau kemampuan akal). Teori kognitif (dalil-dalil) yang menekankan cara mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif

Dalam implementasi sehari hari kita mendengar kata kognitif yang dikenakan kepada seseorang dalam tugasnya. Misalnya seorang guru dan dosen wajib memiliki kompetensi kognitif. Apa artinya kompetensi kognitif? Artinya seorang guru dan dosen harus memiliki kemampuan intelektual, kemampuan seperti menguasai materi l kuliah, pengetahuan mengenai strategi dan cara member kuliah atau sering disebut metode pembelajaran, cara menilai atau mengevaluasi peserta didik.

Jadi,kemampuan kognitif adalah sejumlah aktivitas mental dalam mengenal dan mengetahui tentang dunia. Seorang ahli seperti Neisser, mengartikan bahwa kognitif adalah proses berpikir yang melibatkan pancaindera yang diditransformasi, direduksi, dielaborasi, diperbaiki, dan digunakan.


Semoga bermanfaat

Monday, June 10, 2019

Efektivitas Proyektor LCD dalam Pembelajaran

Efektivitas Proyektor LCD dalam Pembelajaran
Hari ini Efektivitas merilis sebuah judul artikel tentang proyektor LCD dalam Pembelajaran. Menurut Yonas Muanley (2019:1), pembelajaran merupakan tindakan terstruktur edukatif yang bertujuan menghasilkan perubahan dalam level kecakapan peserta didik. Level kecakapan yang saya maksudkan yakni kecakapan kognitif, afektif dan psikomotorik.
Banyak factor yang ikut berkontribusi dalam tindakan edukatif yang memberi perubahan, salah satunya yakni pemanfaatan proyektor dalam proses pembelajaran. Kesadaran ini menyebabkan sekolah menyediakan anggaran untuk pembelian LCD. Namun jangan kita melupakan apa yang saya sampaikan dalam kelanjutan artikel ini.




Proyektor memang hanya sekadar alat, ia bukan manusia tetapi hanya alat. Alat ini berfungis untuk mengatasi masalah dalam proses pembelajaran. Itulah sebabnya dalam dunia pendidikan, para warga pembelajar berusaha menggunakan proyektor dalam pembelajaran.
Proyektor sebagaimana yang disebutkan di atas, sudah, sedang dan akan digunakan dalam pembelajaran. Untuk itu perlu juga membangun sebuah pemahaman tentang proyektor.
Dalam situs id.wikipedia, dijelaskan bahwa “proyektor adalah sebuah alat optik yang digunakan untuk menampilkan gambar di sebuah layar proyeksi atau permukaan serupa. Proyektor dapat mengacu kepada beberapa hal, yaitu Proyektor elektronik seperti proyektor LCD.”
Proyektor LCD merupakan salah satu jenis proyektor yang digunakan untuk menampilkan video, gambar, atau data dari komputer pada sebuah layar atau sesuatu dengan permukaan datar seperti tembok, dsb. Proyektor jenis ini merupakan jenis yang lebih modern dan merupakan teknologi yang dikembangkan dari jenis sebelumnya dengan fungsi sama yaitu Overhead Projector (OHP) karena pada OHP datanya masih berupa tulisan pada kertas bening.

Pemanfaatan Proyektor LCD

Sesuai definisi Proyektor maka proyektor LCD dapat digunakan dalam segala bidang kehidupan manusia. Namun dalam artikel ini saya membahasnya dalam hubungan dengan mengajar-belajar (pembelajaran).
Dalam wikioedia kita ditolong untuk memahami apa sebenarnya proyektor LCD itu dan penggunaannya. Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa proyektor LCD biasanya digunakan untuk menampilkan gambar pada presentasi atau perkuliahan, tetapi juga bisa digunakan sebagai aplikasi home theater. Ya apa yang disampaikan dalam Wikipedia memang sesuai fakta empiris di sekolah, perguruan tinggi, banyak menggunakan proyektor LCD dalam mengelola proses pembelajaran.
Dalam Wikipedia juga disebutkan bahwa penggunakan proyektor LCD itu memungkinkan penampilan gambar dan juga tulisan ke slide sehingga dapat ditonton dan dibaca secara jelas.




Fungsi Proyektor LCD

Sesuai dengan penjelasan di atas maka kita dapat merinci sejumlah fungis proyektor LCD, yaitu:
1. Proyektor LCD berfungsi untuk menampilkan gambar yang hendak ditampilkan dalam sebuah acara seperti perkuliahan, presentasi bisnis, presentasi rapat kantor dll
2. Proyektor LCD berfungsi sebagai media. Artinya Proyektor LCD menampilkan sejumlah informasi dalam bentuk gambar, grafik, tulisan (materi), video dll kepada peserta yang hadir
3. Proyektor LCD berfunsi sebagai alat presentasi. Presentasi yang dimaksud disini dapat berupa presentasi dalam menyampaikan desain proyek perusahan, presentasi dalam bidang mengajar dan belajar (proses pembelajaran), digunakan dalam presentasi keagamaan seperti menyampaikan bahan khotbah dll.
4. Proyektor LCD dapat berfungsi menghibur. LCD dapat dipakai untuk memutar video-video lucu sehingga dapat menghibur keluarga yang menontonnya.

Efektivitas Proyektor LCD dalam Pembelajaran

1. Membuat pencapaian tujuan pembelajaran
2. Membuat bahan ajar menjadi lebih menarik
3. Membuat anak menaruh perhatian pada pelajaran
4. Membuat anak mengerti materi pelajaran
5. Membuat objek yang tidak dapat disaksikan langsung dibawa ke dalam objek tidak langsung
6. Memberdayakan belahan otak kiri dan kanan peserta didik
7. Membuat guru/dosen secara mudah menyampaikan materi pelajaran secara baik dan tepat waktu
8. Membuat pelajaran menjadi materi yang disukai
Faktor-faktor di atas menyebabkan terjadinya efektivitas atau ketercapaian tujuan dalam pembelajaran yang disampaikan oleh guru maupun dosen dalam proses pembelajaran.
Jenis Proyektor LCD yang Lazim dipakai dalam Pembelajaran
1. LED Projektor
2. Proyektor LCD
3. Proyektor CRT
4. Proyektor DLP (Digital Light Processing)
5. Proyektor LCOS






Demikian artikel saya dan semoga bermanfaat

Salam

Wednesday, June 5, 2019

Efektivitas Media Online Sebagai eksistensi Profesional

Efektivitas Media Online Sebagai eksistensi Profesional
Saya sering menulis dan mempublikasi di media online seperti blogspot dan wordpress, salah satu motivasi pendorong yakni eksistensi profesional. Eksistensi profesional itu ada pada siapa saja yang memilih sebuah pekerjaan yang memberi peluang untuk kehidupan yang lebih baik. Kita menulis dan mempublikasi secara online melalui media-media seperti hipwee menjadi bagian dari apa yang saya namakan eksistensi profesional. Bila kita tidak menulis dan mempublikasi maka mungkin kita tidak dikenal keberadaan kita dalam tataran sosial yang lebih luas. Kehadiran media-media online harusnya membuat kita berkarya secara online sehingga eksistensi kita tetap berkembang.







Saya bersykur menemukan hipwee secara kebetulan melalui nama ponakan saya, namanya Kezia Moanley. Saya kemudian melihat ada artikelnya yang diterbitkan oleh hipwee. Membaca artikel dan memperhatikan media baru, mendorong saya untuk langsung memanfaatkan hipwee untuk menulis dan publikasi artikel. Maklum karena senang dengan kegiatan blogger, saya kemudian memutuskan untuk menulis di hipwee.
Hal yang hendak saya sampaikan disini yakni siapa saja yang merindukan sebuah eksistensi profesionalnya dapat menjadikan media ini sebagai salah satu pembuktian eksistensi tersebut. Tulisan yang disampaikan pastilah berguna bagi pembaca. Dengan demikian melalui artikel singkat ini, saya bermaksud menjadikan hipwee sebagai media publikasi hasil pikiran yang berguna.

Menulis dan mempublikasi tulisan melalui media online memberi ruang kepada kita untuk pengembangan semangat preneur dalam diri kita. Bagi mereka yang punya profesi mengajar, dapat menjadikan media ini sebagai media mengembangkan kemampuan dalam inovasi dan kreativitas dalam hal menulis. Apalagi dalam media ini kita diberi peluang mengeksplor tulisan dan gambar. Peluang ini membuat kita semakin menikmati peluang menulis dan menerbitkan momen-momen penting yang dapat diposting sehingga menjadi berguna bagi pembaca.






Eksisten jasmaniah kita terbatas oleh usia. Artinya secara bilologis kita hidup dalam rentan usia tertentu. Tidak ada manusia yang bertahan hidup dalam waktu berabad-abad, namun hasil pikiran yang dituliskan, bila berkualitas (dibutuhkan) maka tulisan tersebut akan bertahan lama, dicetak berulang-ulang. Dalam situs ini sepanjang situs ini ada maka karya kita tetap termuat dalam situs ini.
Saya sadar bahwa sedikit sekali yang meraih sukses ekonomi dari eksistensi menulis, namun dibalik sukses ekonomi, ada yang lebih agung yaitu buah pikiran yang menjadikan orang lain mendapat pesan yang berarti dalam perjuangan hidup. Kita hidup tidak untuk diri tetapi untuk kemanfaatan sesama. Disanalah kasih bersemi





Semoga bermanfaat

Friday, May 24, 2019

Efektivitas Sumber-sumber Belajar

Efektivitas Sumber-sumber Belajar
Belajar adalah pengalaman kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam istilah lain, belajar juga diartikan perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik yang terjadi dalam diri peserta didik. Perubahan-perubahan dalam tiga ranah tersebut terjadi karena kegiatan belajar pada diri peserta didik. Untuk mendapatkan perubahan tersebut, diperlukan sejumlah sumber belajar. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang olehnya memberi informasi atau pesan yang membuat peserta didik mengalami apa yang disebut dengan pengalaman belajar. Sumber-sumber belajar tersebut berkontribusi terhadap peserta didik dalam hal belajar.

Kemudian efektivitas yang saya maksudkan dalam artikel ini yaitu tercapainya tujuan yang ada dalam belajar. Tujuan belajar itu meliputi tujuan kognitif, tujuan afekti dan tujuan psikomotorik. Dengan demikian sumber-sumber belajar yang dapat membuat peserta didik mengalami belajar, yaitu:






1. Orang (Guru, sesama peserta didik, orangtua dll)

Perubahan dalam diri peserta didik tidak hanya terjadi melalui proses belajar mengajar di sekolah tetapi juga di luar sekolah. DI sekolah, guru menjadi salah satu sumber belajar. Guru mengajar dan peserta didik mendapat pengetahuan, terbentuk ketrampilan dan perubahan karakter karena melihat contoh perbuatan baik dalam diri guru. Disini, guru telah menjadi sumber belajar bagi peserta didik dalam 3 ranah. Efektivitas sumber belajar ini tergantung pada kemampuan guru mengelola pembelajaran sehngga tercapai tujuan pembelajaran yang ia sampaikan.

2. Buku

Salah satu sumber belajar adalah buku, termasuk materi yang disampaikan guru. Materi guru dan dosen dapat dibuat dalam bentuk word, powerpoint, dikatat, bahan atau buku ajar ber-ISBN. Melalui material seperti ini peserta didik mendapat pengalaman belajar. Efektivitas sumber belajar dalam bentuk buku tentu tidak dapat dipungkiri. Dengan buku yang disusun berdasarkan materi pelajaran atau bahan kuliah yang baik maka peserta didik mengalami ketercapaian tujuan pembelajaran. Efektivitas ini diukur dari kemampuan guru memberi instruksi kepada peserta didik dalam membaca buku.

Melalui buku, peserta didik dapat belajar secara mandiri dan pengetahuan mereka dapat bertambah. Ada bahan-bahan yang disampaikan guru dan dosen di ruang belajar atau ruang kuliah, tetapi ada juga yang tidak, dengan demikian hal yang belum disampaikan guru dapat ditemukan peserta didik melalui membaca buku.






Buku sebagai sumber belajar mendorong guru dan dosen menulis buku dan diterbitkan oleh penerbit-penerbit buku yang berafiliasi dengan keanggotaan IKAPI. Salah satu syarat menulis buku dan dihitung kredit poin bagi guru dan dosen yaitu buku yang diterbitkan penerbit yang telah menjadi anggota ikapi. Bila guru dan dosen menulis buku ajar maka angka kreditnya sebanyak 20 per buku. Bila menulis buku referensi maka angka kreditnya sebesar 40.

Buku sembagaisalah satu sumber belajar belajar mendorong perlunya menulis buku, perlunya penerbit dan penjual buku (toko buku) baik toko buku konfensional (toko buku) yang memiliki gedung sendiri maupun toko buku online. Toko buku online memudahkan peserta didik, guru dan dosen membeli buku secara online.
Sekarang ada penjualan buku dengan diskon yang relatif besar. Dengan diskon ini, peserta didik, guru dan dosen serta orangtua dapat membeli buku dengan diskon yang relatif besar. Misalnya buku dengan diskon 70% dll.

3. Media online dan offline

Kemajuan internet dan situs (halaman-halaman website) dapat dipakai sebagai media untuk menyampaikan pesan yaitu bahan ajar guru dan dosen. Melalui bahan ajar yang dipublikasikan guru dan dosen di media online maka peserta didik dapat memperoleh pengetahuan secara baik. Efektivitasnya yaitu peserta didik dapat mengatur waktu untuk belajar mandiri melalui internet.

Saya sejak mengenal blog berusaha menulis bahan ajar di situs berupa blog dan website berbayar. Saya membeli hosting dan domain untuk dijadikan sebagai bagian dari tanggungjawab sebagai pendidik dalam menyediakan sumber belajar online. Banyak penawaran membuat website secara profesional, kita dapat membeli sebuah domain dan hosting dari jasa layanan pembuatan website yang ada di Indonesia.

Semoga bermanfaat

Wednesday, May 22, 2019

Efektivitas Computer Cambridge

Kurikulum cambridge akan terasa lebih mantap kalau ditopang dengan komputer cambridge. Komputer ini saya ketahui dari pixabay. Penampilannya sangat bagus, sangat tipis. Tentu efektif dibawa ke mana saja. Dalam Wikipedia disebutkan bahwa komputer Cambridge Z88 adalah komputer portabel dengan berat 0,9 kg (2 lb), dengan versi CMOS berdaya rendah dari mikroprosesor Zilog Z80 yang populer. Featur yang tersedia seperti 32 KiB RAM pseudo-statis internal dan 128 KiB ROM yang berisi sistem operasi (disebut OZ). Sedangkan memorinya dapat diperluas hingga 3,5 MiB RAM, yang isinya disimpan di seluruh sesi. Pada sisi yang lain, kapasitor terintegrasi mencegah Z88 kehilangan data selama waktu terbatas yang diperlukan untuk mengganti baterai.







Dalam komputer ini menggunakan keyboard membran, yang hampir diam digunakan; "klik" elektronik opsional dapat dihidupkan untuk menunjukkan penekanan tombol.


Komputer memang sangat efektif menopang kita dalam kegiatan mengajar dan kegiatan seperti membuat artikel dan memposting di blog. Membuat bahan ajar berbasis blogspot dan wordpress dan masih banyak lagi fungsi komputer. Komputer dengan bentuk seperti ini akan sangat efektif untuk pendidik yang memiliki mobilasasi pembelajaran online berbasis situs. Saya mencoba mencari rujukan tentang komputer ini namun belum ketemu. Namun komputer lainpun apat kita pakai untuk menopang efektivitas kegiatan kita. Syukur kalau ada komputer cambridge, dengan memiliki komputer cambridge maka efektivitas kekaryaan kita dapat terwujud secara baik.




Semoga bermanfaat

Salam

Mengenal Efektivitas Curriculum Cambridge Internasional (CCI)

Mengenal Efektivitas Curriculum Cambridge Internasional (CCI)
Saya bukan pakar kurikulum tetapi pecinta teori kurikulum. Sebagai orang yang mencintai kurikulum, saya berusaha memaparkan dalam weblog ini dengan topik efektivitas CCI atau Curriculum Cambridge Internasional. Saya berusaha membahas CCI karena konteks pendidikan kita di Indonesia yang sudah mengalami beberapa kurikulum sampai pada Kurikulum 2013 yang dikenal dengan singkatan K13 dengan revisi seperti K13 Revisi 2018 yang diberlakukan di satuan pendidikan dasar, menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) dan kurikulum berbasis KKNI yang diperuntukkan untuk SMK dan di perguruan tinggi.



Selain kurikulum nasional yang disebutkan di atas, ada pula kurikulum dari negara tertentu yang dipakai di oleh beberapa sekolah di Indonesia. Salah satu kurikulum pendidikan dari negara lain (Inggris) yang dipakai oleh sekeolah-sekolah tertentu di Indonesia yaitu "Curriculum Cambridge Internasional (perubahan nama tahun 2017). Menurut sejumlah informasi yang saya dapatkan dari google, sekolah di Indonesia yang menggunakan kurikulum ini diperkirakan sebanyak 218 sekolah. Tentu jumlah sekolah ini boleh dibilang meningkat dari waktu-waktu sebelumnya yaitu 180 sekolah dalam selang waktu 2 Tahun. Jadi, ada peningkatan animo sekolah yang menggunakan kurikulum CCI.

Peningkatan pemanfaatan kurikulum CCI sebagaimana yang saya maksudkan di atas tentu berhubungan dengan minat orangtua dalam menyekolahkan anaknya pada sekolah-sekolah bermutu. Sekolah-sekolah bermutu atau yang sekolah bertaraf internasisonal tentu menggunakan kurikulum yang baik. Dengan demikian ada banyak kurikulum yang pasti dipilih dan dipakai oleh sekolah. Berdasarkan pemahaman demikian maka jelaslah bahwa salah satu unsur efektivitas kurikulum adalah terwujudnya hasil belajar dalam diri anak atau peserta didik yang mengalami kualitas belajar dengan kurikulum yang berkualitas pula. Kurikulum yang berkualitas dilaksanakan oleh guru-guru maupun dosen yang berkualitas.

Dari sisi epistemology, kurikulum Cambridge Internasiosnal dibagi dalam beberapa kelompok jenjang belajar. Jenanjang ini disebut dengan Cambridge Pathway, yaitu:
1. Cambridge Primary. Kelompok ini diperuntukkan untuk peserta didik dengan usia 5-11 tahun
2. Cambridge Lower Secondary. Kelompok ini diperuntukkan untuk peserta didik usia 11-14 tahun
3. Cambridge Upper Secondary. Kelompok belajar usia 14-16 tahun
4. Cambridge advanced. Kelompok yang diperuntukkan untuk peserta didik usia 16-19 tahun.

Kemudian efektivitas kurikulum Cambridge Internasional dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Sekolah yang menggunakan Kurikulum Cambridge International selalu menciptakan peluang kepada peserta didik untuk memilih subyek pelajaran yang paling diminati peserta didik.
2. Pilihan demikian akan membuat peserta didik dapat memfokuskan perhatian dan kemampuannya semakin terasah.





Penerapan kurikulum CCI tentu tidak secara gampang dilakukan di sekolah. Penerapan ini membutuhkan guru-guru yang profesional dalam melaksanakan kurikulum ini. Tentu peluang terbesar ada pada sekolah swasta, sedangkan sekolah negeri dengan kurikulum 2013 dan KKNI yang ditetapkan oleh pemerintah RI. Kurikulum hanyalah alat. Namun alat juga ikut menentukan bagaimana membentuk peserta didik menjadi pribadi yang berkualitas sebagai generasi penerus bangsa.

Semoga bermanfaat

Efektivitas Kurikulum IB dan Kurikulum 2013 serta Kurikulum Berbasis KKNI

Efektivitas Kurikulum IB dan Kurikulum 2013 serta Kurikulum Berbasis KKNI
Pendidikan yang diselenggarakan di tingkat satuan pendidikan seperti SD, SMP dan SMA/SMK diumpakan sebagai sebuah ladang/tempat benih ditanam disiram dan tumbuh dan menghasilkan buah. Dalam konteks pendidikan, sekolah sebagai tempat membentuk peserta didik mengalami pengalaman belajar yang memampukan mereka dalam melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi maupun ke pasar kerja (tempat kerja). Proses ini dimulai dengan sebuah perencanaan besar yang kita sebut dengan kurikulum. Kurikulum merupakan pengalaman anak yang menjadi tanggungjawab sekolah. Pengalaman itu berupa adanya tujuan, materi, proses dan evaluasi ketercapaian tujuan tersebut.

Dalam proses pembelajaran di sekolah yang ada di Indonesia, kita kenal ada beberapa kurikulum, yaitu kurikulum 2013 atau K13, Kurikulum IB, dan kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Kurikulum KKNI dipakai di SMK dan di Perguruan Tinggi. Selain itu ada juga perguruan tinggi yang menggunakan kurikulum IB. Lalu apa efektivitas dari tiga kurikulum tersebut dalam diri peserta didik.
Ketiga kurikulum ini diberlakukan dalam satu ladang yang kita sebut dengan ladang atau tempat atau sekolah.



Kurkulum 2013 dipakai secara nasional di satuan sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas. Sedangkan KKNI dipakai di 2 ladang edukasi yaitu di satuan pendidikan dan perguruan tinggi. Satuan pendidikan yaitu kurikulum KKNI diterapkan di SMK. Mengapa demikian? Karena mereka dipersiapkan untuk pasar kerja, berbeda dengan peserta didik yang ada di SMA, mereka harus melanjutkan lagi ke Perguruan Tinggi dan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi maka mereka dapat bekerja sesuai bidang profesinya. Sedangkan kurikulum KKNI diipakai di SMK dan Perguruan Tinggi karena mereka akan menjadi pekerja di lapangan kerja yang ada di masyarakat atau mereka sebagai penipta pekerjaan.