Monday, May 1, 2017

Efektivitas Kepemimpinan Ahok dan Jarot

Efektivitas kepemimpinan bukan hanya suatu teori saja tetapi kebenaran empiris. Secara empiris kita dapat mengamati atau menilai efektivitas kepemimpinan dalam diri pemimpin-pemimpin pemerintahan maupun non pemerintahan. Kali ini saya posting tentang penialaian saya tentang efektivitas Kepemimpinan Ahok dan Jarot. Sekali lagi ini penilaian saya. Jadi, Anda tidak harus setuju dengan saya.
Pengalaman empiris dimulai dengan keberadaan saya sebagai warga DKI. Saya tinggal di Jakarta tepatnya di wilayah DKI pada tahun 1989. Pemimpin pemerintah, khususnya Gubernur Jakarta, yaitu mulai dari Bang Yos, Fausi Bowo, Pak Jokowi saya melihat masing-masing punya efektivitas memimpin. Efektivitas kepemimpinan mereka terukur dari tercapainya beberapa program yang diusung oleh bapak-bapak yang telah saya sebutkan.


Tulisan ini khusus diarahkan untuk membahas sekilas efektivitas kepemimpinan Ahok selama menjadi gubernur DKI, masa kepemimpinan Ahok dan Jarot akan berakhir bulan oktober 2017. Ketika Pak Jokowi berduet dengan pak Ahok dalam memimpin DKI Jakarta, saya melihat sosok gubernur  yaitu pak Jokowi yang begitu merakyat bahkan sampai beliau jadi Presidenpun demikian. Tentu mereka menjadi idola banyak orang.

Baiklah kini saya masuk ke Pak Ahok dan Pak Jarot. Sejak menjadi Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta mulai mengalami banyak perubahan, khususnya yang terasa oleh saya (mungkin terlalu subjektif tetapi itu pengalaman). Biasanya waktu malam, jalan di depan sangat macet karena beberapa kegiatan di Jalan, khususnya mulai depan pon bensin sampai depan PGC dibawah jemabatan Bus Way. Selanjutnya arah ke Kramat Jati yang biasanya macet juga teratasi. Kali-kali yang tadinya penuh dengan tumpukan tanah mulai dibersihkan. Kali-kali menjadi bersih. Sampah yang dibuang sebarangan ke kali juga mulai ditertibkan dan ada hasilnya. Kali-kali bersih dari pembuangan sampah. Masih banyak lagi tetapi ini yang terasa oleh saya. Mungkin pembaca punya pengalaman efektif dari kepemimpinan Ahok dan Jarot. Kedua pemimpin ini telah mengukir kepemimpinan yang efektif di Jakarta. Pasti gubernur yang lain juga efektif dalam kepemimpinan. Kita tunggu hasil kerja para gubernur terpilih.

Pak Ahok dan Pak Jarot sudah mengukir prestasi kepemimpinan yang visioner berhati pelayan masyarakat. Kepemimpinan mereka (Bapak Ahok dan Jarot) tidak hanya berpengaruh di DKI tetapi seluruh Indonesia dan dunia tentunya. Bapak berdua telah menginspirasi banyak orang untuk menjadi pemimpin visioner yang berhati pelayan dan penuh dengan ketegasan, integritas, keberanian, berani menghadapi resiko demi rakyat yang dipimpinya.

Salam sukses untuk Bapak Ahok dan Bapak Jarot. Bapak berdua ada di hati banyak orang.


Berikut beberapa pengalaman empiris saya tentang efektivitas kepemimpinan Pak Ahok dan Pak Jarot.

                                               Gambar Pribadi 1: hasil camera Balck Berry


Gambar di atas menunjukkan para petugas sedang membersihkan kali. Bayangkan timbunan tanah di kali sampai tumbuh rumput. Nampak para petugas sedang berusaha membersihkan.
   
                                          Gambar Pribadi 2: hasil camera Balck Berry


Tumpukkan tanah di kali dikumpulkan para petugas kebersihan untuk kemudian dimasukan ke karung dan diangkut ke tempat lain.


                                         Gambar Pribadi 3: hasil camera Balck Berry


Gambar 3 menunjukkan hasil kerja dari para petugas kebersihan. Timpukan tanah di kali mulai bersih, airpun mengalir dengan lancar.
       
                                             Gambar Pribadi 4: hasil camera Balck Berry


Gambar 4 menunjukkan hasil kerja dari petugas keberhasihan kali di wilayah Jakarta Timur.
 

                                                                        Gambar 5:

Alat-alat berat untuk menguruk kali agar air lancar. Dengan demikian kali-kali yang dialiri air ketika musim hujan menjadi lancar. Ini pengalaman saya, bukan orang lain. Jadi, kita bisa berbeda dalam menilai efektivitas kepemimpinan Ahok dan Jarot. Bagi saya Pak Ahok dan Pak Jarot sangat efektif dalam kepemimpinannya. Mereka yang memimpin dengan visi dan hati pelayan masyarakat tentu pemimpin dengan cara yang unik dan langka.

Sukses untuk Pak Ahok dan Pak Jarot di manapun Bapak berdua nanti berkarya. Kekalahan dalam PILKADA bukanlah akhir dari segalanya, kekalahan itu memberi peluang kepada anak bangsa yang lain untuk berkarya. Kita akan melihat bersama bagaimana kepeimimpinan itu dilanjutkan dengan lebih gemilang lagi. Tetapi jika tidak maka bapak berdua lebih unggul. Semoga mereka yang melanjutkan lebih dari Bapak berdua. Mereka punya kualitas memimpin.

Semoga menginspirasi












Tuesday, October 9, 2012

Karakteristik Efektivitas Pembelajaran

Karakteristik Efektivitas Pembelajaran
Beberapa Pemikiran Yusufhadi Miarso Tentang Karakteristi Efektivitas: Oleh Dr. Yonas Muanley, M.Th.

1. Pengorganisasian kuliah dengan baik.

Hal-hal yang tercantum dalam bagian ini yakni: perumusan tujuan pembelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar), pemilihan materi kuliah, kegiatan kelas, pemberian tugas, dan penilaian. Bagian ini bila dihubungkan dalam komponen proses pembelajaran yang efektif maka ia menyangkut dengan komponen yang pertama yaitu tujuan pembelajaran (akan dibahas dalam komponen efektivitas proses pembelajaran).
Pengorganisasian kuliah merupakan kewenangan dosen. Maka yang dapat menilai baik atau tidaknya pengorganisasian kuliah adalah para sejawat dalam bidang studi yang bersangkutan, ketua program studi, dan mahasiswa. Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah dosen dapat menilai dosen dengan cukup tepat. Menurut Miarso (2004) mahasiswa dapat menilai efektivitas pembelajaran karena mahasiswalah yang mengetahui: (1) apakah dosen menyajikan bahan kuliah di dalam cara teratur, (2) apakah dosen telah mempersiapkan diri untuk kelasnya, (3) pakah dosen telah menjelaskan pokok yang perlu dipelajari, dan (4) apakah kuliah itu memungkinkan untuk dapat diikuti dengan baik.

2. Komunikasi secara efektif

Aspek-aspek yang berkait dengan komunikasi secara efektif dalam pembelajaran pada bagian ini meliputi: strategi dan metode mengajar, pemakaian media untuk menarik perhatian mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Selain itu penyajian yang jelas, kelancaran berbicara, interpretasi gagasan abstrak dengan contoh-contoh, kemampuan wicara yang baik (nada, intonasi, ekspresi dosen), dan kemampuan untuk mendengarkan mahasiswa. Kemampuan secara efektif tidak hanya meliputi penjelasan verbal, tetapi dapat juga berupa makalah yang ditulis, silabus dan rencana kuliah yang jelas dan mudah dipahami.

3. Penguasaan dan antusiasme dalam mata kuliah

Seorang dosen dituntut mengetahui materi kuliahnya dengan baik, agar mudah mengorganisirnya secara sistematis dan logis. Dosen mampu menghubungkan isi kuliahnya dengan apa yang telah diketahui mahasiswa, mampu mengkaitkan isi kuliah dengan perkembangan yang terbaru dalam disiplin keilmuannya, dan mampu mengambil manfaat dari penelitian yang berkaitan.

4.Sikap positif terhadap mahasiswa

Sikap positif terhadap mahasiswa dilakukan melalui cara-cara seperti: Apakah dosen memberi bantuan jika mahasiswa mengalami kesulitan dengan bahan kuliahnya, Apakah dosen mendorong mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan atau memberi pendapat, Apakah dosen dapat dihubungi mahasiswa di luar kelas, Apakah dosen peduli terhadap apa yang dipelajari mahasiswa.
5. Pemberian ujian dan nilai yang adil

Sejak awal kuliah mahasiswa harus mendapat informasi tentang: sistem penilaian seperti: kehadiran/interaksi, tugas terstruktur (paper/makalah, risensi), ujian tengah semester, ujian akhir semester, batas akhir pengumpulan tugas, dan aspek-aspek lain yang berkait dengan penilaian akhir.
Kesesuaian soal ujian dengan bahan kuliah yaitu pembuatan soal yang konsisten dengan indicator-indikator dari setiap kompetensi dasar yang telah dibuatnya sebagaimana yang ada dalam kontrak dan silabus serta satuan acara perkuliahan. Kesesuaian soal ujian dengan bahan kuliah yang diberikan merupakan salah satu indicator keadilan dalam ujian. Memberi nilai A jika mahasiswa memang seharusnya mendapat A dan bukan sebaliknya.

6. Keluwesan dalam pendekatan pengajaran

Aspek yang ada dalam bagian ini adalah pendekatan pembelajaran yang bervariasi sehingga pembelajaran berlangsung lebih bergairah. Beragama pendekatan pembelajaran tentu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

7. Hasil belajar mahasiswa yang baik

Tercapainya perubahan pada tiga ranah yaitu (1) kognitif, (2) afektif, dan (3) psikomotorik. Pedoman yang harus dipegang adalah hasil belajar mahasiswa harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dimaksud dapat berupa perubahan tiga ranah di atas.
Pokok-pokok di atas dilaksanakan dengan satu target yaitu mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran ada kegiatan belajar. Belajar itu memiliki banyak definisi, slah satunya yakni defini oleh Joni Raka.

Menurut Joni Raka (1985:7) menyatakan bahwa belajar itu adalah suatu yang harus dilakukan sendiri (dihayati oleh yang bersangkutan), maka mengajar merupakan upaya menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar

Terimakasih atas kunjungan Anda di blog saya.

Salam